Profil dan Perjalanan Karir Jamie Vardy

Jamie Vardy menjelma menjadi bintang baru di Premier League musim ini. Pemain milik Leicester City ini menyihir publik melalui aksi ketajamannya di mulut gawang, bahkan kemampuannya mencetak gol melebihi striker-stiker papan atas di Inggris melebihi Wayne Rooney, Sergio Aguero atau Diego Costa.

Vardy kini memimpin dalam daftar topscorer Premier League mengemas 15 gol. Pemain 28 tahun itu naik daun. Vardy tidak pernah membayangkan bisa setenar sekarang. Vardy cuma bermodal nekat meretas karier di lapangan hijau. Bukan seperti Rooney atau Aguero yang sudah kelihatan bakal menjadi pemain top, Vardy memulai kiprah di sepakbola dengan lambat

Tanda-tanda Vardy bakal menjadi pemain tenar tidak terlihat sama sekali. Ketika berusia 16 tahun, Vardy bahkan ditendang tim Akademi Sheffield Wednesday. Kemudian, Vardy pindah ke tim amatir Stocksbridge Park Steels pada 2007.

Kariernya cukup moncer bersama Park Steels yang bermain di Divisi Satu Selatan. Pemain 28 tahun ini mampu mencetak 66 gol dalam 106 penampilan. Namun karena pendapatan yang tidak mencukupi, di sela-sela waktu bermain, Vardy bekerja sampingan.

Vardy hanya mendapatkan bayaran sebesar 30 poundsterling atau Rp 600 ribu per pertandingan. Karena itu, terpaksa dia harus “nyambi” menjadi buruh pabrik alat-alat penyangga patah tulang untuk menyambung hidup.

“Siang hari saya bekerja berjam-jam kemudian bermain sepakbola pada malam hari. Saya teknisi serat karbon. Memasukkan fiber ke dalam cetakan,” kata Vardy membuka kisah perjalanan hidupnya sebagaimana dilansir dari Daftar Sbobet.

Dari pekerjaan tersebut, Vardy mengaku bermasalah pada tulang punggung karena terlalu sering mengangkat beban. “Saya harus mengangkat sesuatu ke dalam tungku panas ratusan kali. Namun hal ini tidak membuat saya kehilangan waktu bermain sepak bola.”

Demi bisa bermain, Vardy terkadang berbohong ke atasan. Dia berpura-pura cedera ketika bermain. “Sehingga saya tidak perlu bekerja.”

Tidak kuat membagi waktu, Vardy meninggalkan pekerjaan kasar itu dan mulai menata masa depan di lapangan hijau.

Vardy pindah ke Halifax. Namun penampilannya tidak optimal karena punggungnya kerap bermasalah akibat aktivitasnya sebagai buruh kasar sebelumnya. Dia pun harus hidup pas-pasan.

“Lalu kontrak saya diputus. Beruntung, tiga hari kemudian saya meneken kontrak untuk Fletwood; full-time.”

Mimpi buruk Vardy belum berakhir. Di awal-awal karier bersama Park Steels 2004 lalu, Vardy sempat berurusan dengan pihak kepolisian. Dia harus mengenakan gelang khusus agar pegerakannya mudah dipantau pihak berwajib.

Masalah bermula ketika Vardy memukuli remaja yang mengejek rekannya hanya karena memakai alat bantu dengar. “Saya membela teman saya. Namun hal itu membuat saya justru berada dalam kesulitan.”

Niat baik Vardy berujung pada hukuman kurungan di rumah. Tapi Vardy ikhlas menerima cobaan ini. Bahkan, hukuman ini membuat dia menjadi pribadi yang lebih tangguh.

“Kejadian itu memiliki andil dalam membentuk kepribadian saya sekarang. Ini sulit karena menimbulkan dampak langsung bagi Anda dan keluarga. Ketika orang lain menikmati kebebabasan, saya terkurung di dalam kamar. Beruntung, saya memiliki koleksi DVD yang banyak,” seloroh Vardy.

Kendati demikian, Vardy tetap berusaha mengejar mimpi-mimpinya. Kondisi yang dihadapinya bahkan memberikan pelajaran, harapan tidak boleh mati meski berada di tengah kesulitan.

“Ini adalah kasus tentang harapan untuk meraih kemenangan,” kata dia.

Agar bisa sekadar bermain, Vardy harus mencuri-curi waktu berlatih dan bertanding. Bahkan, untuk keluar rumah dia harus melompati pagar agar tidak diketahui orang tuanya.

“Bila melakoni pertandingan tandang, saya hanya bisa sejam di luar rumah. Setelah itu, Polisi kembali membawa saya kembali ke rumah,” kenang pemain 28 tahun ini.

“Situasi ini berlangsung selama 6 bulan.”

Di Fleetwood, Vardy menembus batas. Pernah suatu ketika, dia telat datang ke tempat latihan. Pelatihnya kemudian memberi hukuman berlari dengan telanjang kaki. Tapi Vardy menjalankan perintah sang pelatih melebihi batas. Di tengah musim dingin yang menusuk di Fleetwood dia berlari telanjang dada tanpa alas kaki

“Di Fleetwood, saya harus berlari bertelanjang kaki untuk menebus kesalahan seperti datang terlambat. Padahal, musim dingin di Fleetwood sangat beku,” kata Vardy mengenang.

“Untungnya ketika itu tidak ada kamera yang mengikuti saya.”

Dua tahun bermain di Fleetwood, Vardy tampil meyakinkan. 31 gol berhasil disarangkan dari 36 pertandingan. Performa trengginas sang pemain membuat Leicester kepincut. Akhirnya, pada 2012 Vardy direkrut Leicester.

Ketika itu, Vardy berstatus sebagai pemain termahal di liga amatir dengan transfer mencapai 1,7 juta poundsterling. Bila dikurs ke rupiah, nilainya mencapai Rp35 miliar. Tidak percuma The Foxes membelinya. Di musim pertama bersama Leicester, Vardy mempersembahkan gelar Championship 2013-14.

Leicester promosi ke Premier League. Pertama kali dalam satu dekade terakhir berkat sentuhan kerja keras Vardy.

Musim ini, Vardy menjadi buah bibir. Selain karena ketajamannya di mulut gawang, Vardy mencetak gol di 11 laga beruntun; dia mematahkan rapor impresif milik legenda Manchester United asal Belanda, Ruud Van Nistelrooy.

Ketajaman Vardy mendapat perhatian dari manajer Timnas Inggris, Roy Hodgson. Keringat Vardy terasa manis di 2015 ketika dia dipanggil masuk skuat Tiga Singa untuk melakoni laga persahabatan Kualifikasi Piala Eropa 2016 melawan Republik Irlandia, 7 Juni 2015. Ketika itu, dia menggantikan kapten Wayne Rooney di 15 menit jelang bubaran.

“Baterai telpon sampai cepat habis karena teman-teman saya mengirimkan ucapan selamat. Mereka dari klub Divisi Amatir. Bukan dari Premier League,” ujarnya.

Dipanggil ke Timnas Inggris, Vardy menyebut ibarat mimpi menjadi nyata. Pasalnya,
Vardy tidak pernah mentas di ajang sepakbola profesional hingga usianya 25 tahun.

“Saya akan mencubit pipi sekali lagi ketika sampai di rumah. Rasanya, saya sekarang sedang berjalan di atas bulan ketika terpilih masuk timnas. Ketika menggantikan Rooney, dia berkata ‘semoga berhasil. Lakukan apa yang ingin Anda lakukan’,” kata Vardy.

“Saya tidak pernah membayangkan tampil di Premier League, apalagi Timnas Inggris. Saya jujur pada Anda.”

This entry was posted in Sepakbola. Bookmark the permalink.